
Dari catatan harian Maria
Alkisah, dulu ada seekor burung jantan yang tampan. Dia punya
sepasang sayap yang indah dan tubuhnya berhias bulu beraneka warna yang
halus mengkilat. Pendeknya, dia diciptakan untuk terbang bebas di langit
biru dan memberi rasa bahagia pada semua makhluk yang memandanginya.
Pada suatu hari, sorang perempuan melihat burung itu dan langsung
jatuh hati padanya. Mulutnya menganga penuh kekaguman saat memandangi
burung itu terbang membelah langit, jantungnya berdegup kencang, matanya
berbinar-binar penuh harap. Dia meminta burung itu membawanya terbang,
dan keduanya menari dengan serasi di angkasa. Dia sungguh mengagumi dan
memuja burung itu.
Sempat terlintas di benak perempuan itu: Mungkin burung itu ingin
berkelana ke puncak-puncak gunung yang jauh! Seketika hatinya risau dan
cemas, khawatir hatinya tak mungkin jatuh cinta kepada burung lain. Dan
ia merasa sungguh iri, mengapa dia tak bisa terbang bebas sebagaimana
burung pujaannya itu.
Dan dia merasa kesepian.
Lalu dia berpikir: “Akan kubuat sebuah jebakan. Jika burung itu muncul lagi, dia akan terjebak dan tak bisa pergi lagi.”
Si burung yang ternyata juga jatuh cinta pada perempuan itu datang
keesokan harinya, terpikat masuk ke dalam jebakan, dan akhirnya dikurung
oleh perempuan itu.
Dengan puas hati perempuan itu memandangi burung pujaannya setiap
hari. Akhirnya dia mendapatkan objek tempat dia menumpahkan segala
luapan nafsunya, dan tak lupa dia memamerkan burung itu kepada
teman-temannya yang tak henti-hentinya memuji: “Kini kau telah
mendapatkan segala sesuatu yang kau inginkan.” Namun kini telah terjadi
perubahan yang aneh: karena burung itu telah mutlak dikuasainya dan dia
tak perlu merayu dan memikatnya lagi, akhirnya dia tak lagi tertarik
kepadanya. Dan si burung yang tak kuasa terbang dan mengungkapkan makna
hidupnya yang sejati mulai merana; bulunya yang indah mengkilat berubah
kusam, dan makhluk yang penuh pesona itu berubah menjadi buruk rupa, dan
perempuan itu semakin lama semakin tak menghiraukan dia, kecuali
memberinya makan dan minum serta membersihkan kandangnya.
Pada suatu hari burung yang merana itu mati. Perempuan itu sangat
bersedih, dan setiap hari menghabiskan waktunya untuk mengenang si
burung. Tapi dia tak lagi hirau pada kandang burung itu, dia hanya
teringat saat pertama kali melihat si burung mengepakkan sayapnya dengan
penuh keyakinan diri di sela-sela awan.
Seandainya dia bisa bercermin pada kalbunya yang paling dalam, dia
insaf bahwa pesona terbesar makhluk berbulu itu adalah kebebasannya,
keperkasaan kepak sayapnya, dan bukan sosoknya yang rupawan.
Tanpa kehadiran burung itu, hidupnya berubah hampa dan sepi makna,
hingga suatu saat datang Maut menjemputnya. “Mengapa kau datang kemari?”
Tanya perempuan itu. “Kujelang dirimu agar kau dapat kembali terbang
bersamanya ke langit,” jawab Maut. “Kalau saja dulu kaubiarkan dia bebas
datang dan pergi, tentu akan semakin besar cinta dan kekagumanmu
padanya; dan aku tak perlu datang untuk membawamu kepadanya.”
sumber: http://diosdias.wordpress.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar