Saat
beranjak dewasa, saat masa berpasangan , manyar jantan mulai membangun
sarang, terbuat dari alang-alang atau daun-daun tebu atau daun-daun lain
yangpanjang-panjang. Benar-benar ahli dan besenilah mereka membangun sarang yang rapi serta bercitra perlindungan yang meyakinkan. Sedang yang betina melihat saja dengan santai tapi penuh perhatian pada jantan yang bekerja sambil menaksir hasil kerja para jantan, mempertimbangkannya dan memilih. Berbahagialah yang terpilih, namun alangkah sedihnya yang tidak terpilih, sarang yang telah
selesai
itu dilolosi dan dibongkar sehingga semua rusak lalu segala jerih payah
yang gagal itu dibuang ke tanah. Tapi syukurlah, mereka tidak putus
asa. Manyar jantan yang frustasi itu mulai mencari alang-alang dan
daun-daun tebu lagi dan sekali lagi dari awal mula mulai membangun
sarang baru, penuh harapan, semoga kali ini berhasil dianugerahi hati
berkenan sang betina.Sanggup memilih mengandaikan suatu kemampuan untuk menimbang, untuk memegang kendali nasib, untuk berkreasi. Sebab siapa berkemampuan untuk memilih dia mengatasi nasib, ia raja yang menguasai dalil rutin belaka. Dari lain pihak, dari mana perasaan sedih dan kecewa dan kejengkelan yang lalu melolosi dan merombak sesuatu yang dinilainya gagal ? Dari mana datangnya tekad baru yang kreatif kembali, yang mengandaikan jiwa yang punya harapan, yang tidak menyerah hanyut, namun aktif menimbulkan fajar baru.
Kenangan dapat berbahaya selaku nostalgia kosong, tetapi kenangan indah dapat hadir selaku kekuatan yang tiada tara.
Adakalanya cerita manusia harus disinambungkan ke dalam perjalanan riwayat yang serba diam …. dalam keheningan yang sebenarnya bahkan serba kebak kepenuhan.
Sedikit aku dapat menangkap sasmita kupu-kupu yang memekar dan terbang hanya sebentar lagi mati. Bahasa citra kupu-kupu atau kicauan burung berwarta, bahwa segala dedikasi mereka adalah demi telur-telur.
sumber: http://diosdias.wordpress.com/cuplik-persepsi-inspirasi/cuplik-dari-burung-burung-manyar-y-b-mangunwijaya/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar